*
Pengertian penalaran deduktif :
Penalaran Deduktif
adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang
berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses
penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara
deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus
atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif terebut
dapat dimulai dai suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Penarikan
kesimpulan secara deduktif biasaya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan
silogisme. Silogisme disusun dari dua buah pernyatan dari sebuah kesimpulan. Pernyataan
yang mendukung silogisme ini disebut sebagai premis yang kemudian dibedakan menjadi
:
1. Premis Mayor dan
2. Premis Minor
Kesimpulan merupakan pengetahuan
yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Penarikan
kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan
secara langsung ditarik dari satu premis dan penarikan tidak langsung dari dua
premis.
*
Macam-macam penalaran deduktif :
- Silogisme Kategorial
- Silogisme Hipotesis
- Silogisme Disyungtif
- Entimen
*
Pengertian Silogisme dan Emitten
a. Silogisme adalah
suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua
proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa
silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1
kesimpulan.
b. Entimen
Entimen adalah
penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya
dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
* Macam-macam Silogisme
- Silogisme Kategorial
Silogisme
kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial.
Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat
dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan
premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di
antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh : - Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
-
Akasia adalah tumbuhan (premis minor).
-
Akasia membutuhkan air (Konklusi).
-
Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotetis adalah
argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetis, sedangkan premis
minornya adalah proposisi katagorik.Ada 4 macam tipe silogisme hipotesis :
1.
Silogisme yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:
Jika hujan, saya naik becak.
Sekarang hujan.
Jadi saya naik becak.
2.
Silogisme yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:
Bila hujan, bumi akan basah.
Sekarang
bumi telah basah.
Jadi hujan telah turun.
3. Silogisme
yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:
Jika
politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Politik
pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa,
Jadi
kegelisahan tidak akan timbul.
4. Silogisme disjungtif adalah silogisme
yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif sedangkan premis minornya
bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang
disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis
mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya. Silogisme
ini ada dua macam yaitu:
·
Silogisme
disyungtif dalam arti sempit
Silogisme disjungtif dalam arti
sempit berarti mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh:
Heri jujur atau berbohong.(premis1)
Ternyata Heri berbohong.(premis2)
Ia tidak jujur (konklusi).
·
Silogisme
disjungtif dalam arti luas
Silogisme disyungtif dalam arti luas
berarti premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Contoh:
Ternyata
tidak di rumah.(premis2)
Hasan di pasar (konklusi).
*
Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis
minor dan kesimpulan. Contoh entimen:
·
Dia
menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
·
Anda
telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.
* Tahap-tahap pembentukan hipotesis
1. Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah ialah
kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul
karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat
diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang
sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan
yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah
mendapat bentuk perumusan masalah.
2. Hipotesis pendahuluan atau hipotesis
preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara yang
menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam
penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, pengamatan tidak
akan terarah.Fakta yang
terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatukonklusi, karena tidak
relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan
secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis
keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya
digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3. Pengumpulan fakta.
Dalam penalaran ilmiah, di antara
jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan
memilih fakta.
4. Formulasi hipotesa.
Pembentukan hipotesa dapat melalui
ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa
diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai
contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari
hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di
bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu
pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum
gravitasi.
5. Pengujian hipotesa
Artinya, mencocokkan hipotesa dengan
keadaan yang dapat diamati
dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran).
Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi.
Falsifikasi(penyalahan)
terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan
hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh
fakta yang dinamakan koroborasi(corroborati*
Pengertian penalaran deduktif :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar