CONTOH
KASUS
Baru-baru ini pada bulan agustus
terjadi pelanggaran hak paten antara smartphone A dan S. Smartphone S dianggap
melanggar sebagian dari 2 hak paten smartphone A. Panel mencegah perusahaan S
mengimpor, menjual, dan mendistribusikan perangkatnya yang melanggar beberapa
klaim paten di amerika serikat.
Pelanggaran hak paten yang dilakukan
smartphone S yaitu deteksi jack headphone dan pengoperasian layar sentuh. S dan
A adalah perusahaan pembuat ponsel pintar no 1 dan 2 didunia. Perusahaan A telah
menyampaikan keluhan sejak pertengahan 2011 bahwa perusahaan S melanggar paten
perusahaan A dalam menciptakan beragam ponsel dan komputer tablet.
Sebelumnya pada bulan juni perusahaan
S melaporkan perusahaan A telah melanggar hak cipta mereka. Hak cipta ini
terkait dengan penerapan teknologi 3G dan kemampuan untuk mengirimkan berbagai
layanan secara tepat pada saat yang sama. Komisi perdagangan internasional
memutuskan bahwa perusahaan A telah melanggar hak cipta perusahaan S.
Para pengamat mengatakan bahwa
perusahaan A mencari cara untuk membatasi
pertumbuhan sistem Android milik Google. Sebagai
hasilnya, perusahaan telepon selular yang menggunakan teknologi Android seperti
S dan HTC, terlibat dalam berbagai sengketa hukum.
Dalam
sidang perebutan hak cipta lainnya di pengadilan federal di Amerika Serikat
pada tahun lalu, Perusahaan S diharuskan membayar lebih dari US$ 1 miliar (Rp
9,8 triliun) untuk pelanggaran hak cipta yang kemudian dikurangi menjadi US$
598,9 juta (Rp 5,8 triliun). Perusahaan S adalah perusahaan pembuat telepon
selular pintar terbesar sedunia, tapi keuntungan perusahaan A di bisnis ini
lebih besar.
ANALISIS
Dari contoh kasus diatas dapat
dilihat bahwa dua perusahaan smartphone tersebut sama-sama saling bersaing
untuk menarik konsumen tapi dalam dunia bisnis perlu diterapkan juga bisnis
yang memandang etika, yang semata-mata tidak hanya ingin memperoleh keuntungan
saja. Tetapi perlu diterapkan juga etika bisnis tersebut. Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan
individu, perusahaan dan juga masyarakat.
Etika
Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku
karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan
pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Perusahaan meyakini prinsip
bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja
unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika
sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
Menurut
Bertens (2000), bisnis yang tidak melanggar hukum, belum tentu tidak melanggar
moralitas. Etika diperlukan untuk melengkapi hukum karena lima alasan: (a) hukum tidak
mengatur segala sesuatu, (b)
hukum sering kalah cepat dari perkembangan bisnis; (c)
hukum selalu memiliki celah yang bisa disalahgunakan; (d)
hukum sering tidak ditegakkan; dan (e) ketentuan hukum
seringkali memiliki multi-tafsir. Buku Pedoman Prinsip dan Penilaian Bisnis
Beretika Berkelanjutan LOS DIY (2007) menyebutkan bahwa ketaatan pada hukum
atau peraturan hanyalah salah satu dari 8 indikator etika. Bisnis yang beretika
adalah bisnis yang taat pada peraturan atau hukum, transparan, akuntabel,
bertanggungjawab, wajar, jujur, berempati, dan independen. Indikator
ketaatan pada hukum dan aturan lebih mudah diukur daripada ketujuh
indikator lain
REFERENSI:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar