Kamis, 28 November 2013

Contoh Kasus Bisnis Tidak Beretika

          
CONTOH KASUS

            Baru-baru ini pada bulan agustus terjadi pelanggaran hak paten antara smartphone A dan S. Smartphone S dianggap melanggar sebagian dari 2 hak paten smartphone A. Panel mencegah perusahaan S mengimpor, menjual, dan mendistribusikan perangkatnya yang melanggar beberapa klaim paten di amerika serikat.
            Pelanggaran hak paten yang dilakukan smartphone S yaitu deteksi jack headphone dan pengoperasian layar sentuh. S dan A adalah perusahaan pembuat ponsel pintar no 1 dan 2 didunia. Perusahaan A telah menyampaikan keluhan sejak pertengahan 2011 bahwa perusahaan S melanggar paten perusahaan A dalam menciptakan beragam ponsel dan komputer tablet.
            Sebelumnya pada bulan juni perusahaan S melaporkan perusahaan A telah melanggar hak cipta mereka. Hak cipta ini terkait dengan penerapan teknologi 3G dan kemampuan untuk mengirimkan berbagai layanan secara tepat pada saat yang sama. Komisi perdagangan internasional memutuskan bahwa perusahaan A telah melanggar hak cipta perusahaan S.
            Para pengamat mengatakan bahwa perusahaan A mencari cara untuk membatasi pertumbuhan sistem Android milik Google. Sebagai hasilnya, perusahaan telepon selular yang menggunakan teknologi Android seperti S dan HTC, terlibat dalam berbagai sengketa hukum.
            Dalam sidang perebutan hak cipta lainnya di pengadilan federal di Amerika Serikat pada tahun lalu, Perusahaan S diharuskan membayar lebih dari US$ 1 miliar (Rp 9,8 triliun) untuk pelanggaran hak cipta yang kemudian dikurangi menjadi US$ 598,9 juta (Rp 5,8 triliun). Perusahaan S adalah perusahaan pembuat telepon selular pintar terbesar sedunia, tapi keuntungan perusahaan A di bisnis ini lebih besar.

ANALISIS
            Dari contoh kasus diatas dapat dilihat bahwa dua perusahaan smartphone tersebut sama-sama saling bersaing untuk menarik konsumen tapi dalam dunia bisnis perlu diterapkan juga bisnis yang memandang etika, yang semata-mata tidak hanya ingin memperoleh keuntungan saja. Tetapi perlu diterapkan juga etika bisnis tersebut. Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat.
           Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
      Menurut Bertens (2000), bisnis yang tidak melanggar hukum, belum tentu tidak melanggar moralitas. Etika diperlukan untuk melengkapi hukum karena lima alasan: (a) hukum tidak mengatur segala sesuatu, (b) hukum sering kalah cepat dari perkembangan bisnis; (c) hukum selalu memiliki celah yang bisa disalahgunakan; (d) hukum sering tidak ditegakkan; dan (e) ketentuan hukum seringkali memiliki multi-tafsir. Buku Pedoman Prinsip dan Penilaian Bisnis Beretika Berkelanjutan LOS DIY (2007) menyebutkan bahwa ketaatan pada hukum atau peraturan hanyalah salah satu dari 8 indikator etika. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang taat pada peraturan atau hukum, transparan, akuntabel, bertanggungjawab, wajar, jujur,  berempati, dan independen. Indikator ketaatan pada hukum dan aturan  lebih mudah diukur daripada ketujuh indikator lain

REFERENSI:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar